Metode farmakologi 3
Interferon-gamma release assays merupakan in vitro blood tests yang berfungsi untuk mendeteksi
respon CMI pada infeksi Mtb, dengan demikian IGRA hanya mengukur secara tidak
langsung adanya Mtb.
Interferon-gamma
dihasilkan oleh sel-sel dari sistem imun seperti CD4+, CD8+, dan NK
cells.
Pada
prinsipnya, pemeriksaan IGRA mengukur jumlah sel yang memproduksi
interferon-gamma (IFN-γ). Secara in vitro, sel T distimulasi dengan antigen
spesifik TB
Link youtube materi pertemuan 3 "Teknik Pengujian Antituberkulosis Secara Invitro" https://youtu.be/MeB7ZhCR1Gk
Saudari menjelaskan tentang teknik pengujian antituberkulosis Interferon-gamma release assays (IGRA) apakah ada kelemahan dari metode IGRA ini? Dan bagaimana kita sebagai peran farmasis terhadap hal tersebut?
BalasHapusTentu saja pada IGRA ini terdapat beberapa kelemahan seperti membutuhkan penanganan sampel dalam waktu 12 jam setelah pengambilan darah, dan
Hapusmasih sedikit data yang berhubungan dengan penggunaannya dalam menentukan risiko menderita TB. Lalu, IGRA direkomendasikan digunakan pada individu yang sudah mendapatkan BCG dan individu dengan riwayat tidak kembali sesudah tes tuberkulin. Saat ini IGRA direkomendasikan untuk mendiagnosis infeksi TB laten(tanpa gejala) tetapi tidak untuk TB aktif. Nah dari hal tersebut, kita dapat memilih opsi lain seperti pemeriksaan atau tes lain yang lebih spesifik untuk tb aktif, agar hasil yang di dapat kan dignosanya lebih akurat dan spesifik serta pengobatan yg diberikan jg tepat.
Pada video saudari yang menjelaskan tentang perbedaan IGRA vs TST, mengapa pada pemeriksaan IGRA hanya satu kali kedatangan yaitu pada saat sekali pemeriksaan saja?
BalasHapusBaik. Nah Untuk IGRA itu benar hanya satu kali kedatangan saja yaitu saat pengambilan sampel saja, setelah darah selesai di inkubasi dan pembacaan hasil nya melalui analisa Softwer, pasien tidak perlu datang kembali. Nah sedangkan pada TST itu perlu dua kali kedatangan yaitu pada saat pemeriksaan dan pembacaan hasil, nah pasien perlu datang pada saat pembacaan hasil karena observasi atau pengukuran indurasi pada benjolan yang timbul setelah di injeksikan dgn ppd sebelumnya itu harus secara manua
HapusBaik, dari pertanyaan yang saudari jawab dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa kelemahan seperti membutuhkan penanganan sampel dalam waktu 12 jam setelah pengambilan darah, dan masih terdapat sedikit data yang berhubungan dengan penggunaannya dalam menentukan risiko pada penderita atau pasien penyakit TB. Dari hal tersebut kita dapat memilih opsi lain seperti pemeriksaan atau tes lain yang lebih spesifik untuk penyakit TB sehingga hasil yang di dapatkan serta diagnosanya lebih akurat dan spesifik serta pengobatan yg diberikan jg tepat. Selain itu, pemeriksaan IGRA berbeda dengan pemeriksaan TST yaitu pada saat pemeriksaan IGRA hanya satu kali sehingga pasien tidak perlu datang kembali melalui analisa software. Sedangkan, pada pemeriksaan TST perlu dua kali kedatangan yaitu pada saat pemeriksan dan pembacaan hasil sehingga pasien perlu datang pada saat pembacaan hasil.
BalasHapus